PENGELOLAAN ARSIP DINAMIS DAN DIGITAL BAGI PERUSAHAAN
DYNAMIC AND
DIGITAL ARCHIVES MANAGEMENT FOR COMPANY
PENGELOLAAN ARSIP DINAMIS
DAN DIGITAL BAGI PERUSAHAAN
by:
Nita Fridayanti, nita.fridayanti.abs21@polban.ac.id
Program Studi
Administrasi Bisnis
Politeknik Negeri Bandung
ABSTRACT
The digital age is currently being faced with a transition period from the Industrial Revolution 4.0 which focuses on Digitalization or Artificial Intelligence (Artificial Intelligence), then transitioning to the Industrial Revolution 5.0 or called Society. Along with the development of technology, every company must always be updated about technology that is growing as well, so that the need for archival data is increasing. Company data is often referred to as archives, not a few middle to lower companies still use Archiving / Archival Data still use sheets of paper which are considered less dynamic, efficient, and effective. Therefore, every company should develop its Data Archiving towards digital in order to increase the efficiency and effectiveness of access to Archive Data so that it becomes short and precise. This paper explains the use of the digital era for the use of Digital Archive Data which can make Archive Data dynamic and increase the effectiveness and efficiency of Archive Data owned by each company. So that there will be no problems that are not wanted by the company such as; Lost, burned, wasted, or stolen archives.
Keywords : Archival, Dynamic, Digital Data
ABSTRAK
Zaman digital saat ini sedang dihadapkan dengan masa transisi dari Revolusi Industri 4.0 yang berfokus pada Digitalisasi atau Kecerdasan Buatan (Artificial Intellegent), kemudian bertransisi menjadi Revolusi Industri 5.0 atau disebut Society. Seiring berjalannya perkembangan teknologi, setiap perusahaan pasti harus selalu update mengenai teknologi yang kian berkembang juga, sehingga kebutuhan data arsip semakin meningkat. Data perusahaan sering disebut sebagai arsip, tidak sedikit perusahaan-perusahaan menengah ke bawah masih menggunakan Pengarsipan/Data Arsip masih menggunakan lembaran kertas yang dinilai kurang dinamis, efisien, dan efektif. Maka dari itu, setiap perusahaan sudah seharusnya mengembangkan Pengarsipan Datanya ke arah digital agar meningkatkan efisiensi dan efektifitas akses terhadap Data Arsip sehingga menjadi singkat dan tepat. Paper ini menjelaskan mengenai pemanfaatan era digital terhadap penggunaan Data Arsip Digital yang dapat membuat Data Arsip menjadi dinamis dan meningkatkan efektifitas serta efisiensi terhadap Data Arsip yang dimiliki setiap perusahaan. Sehingga tidak akan terjadi masalah yang tidak diinginkan oleh perusahaan seperti; Arsip yang hilang, terbakar, terbuang, ataupun dicuri.
Kata kunci : Data Arsip, Dinamis, Digital
1.
PENDAHULUAN
Istilah arsip mungkin
sudah sering terdengar di media digital apapun, seperti media sosial, situs
resmi, jurnal, artikel, dan lain-lain. Sedangkan beberapa mungkin belum
mengetahui Arsip itu apa. Menurut UU RI No..43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip adalah
bentuk rekaman dari segala jenis teknologi informasi dan komunikasi, yang
disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam
berbagai bentuk dan format peristiwa atau dokumen yang berkaitan dengan
peristiwa, diterbitkan oleh otoritas publik, pemerintah negara, lembaga
pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan
individu tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Arsip memiliki fungsi yang begitu penting bagi
perusahaan. Arsip digunakan untuk sebagai dasar pertimbangan dari setiap keputusan
yang dibuat. Proses pengarsipan diawali dengan kegiatan penciptaan, penerimaan, pengumpulan, pemeliharaan, penyimpanan dan evaluasi penerapan aturan atau sistem tertentu. Di perusahaan menengah ke bawah
sistem pengarsipan di buat dalam bentuk konvensional atau dalam bentuk kertas.
Pengarsipan menggunakan sistem konvensional tentu memiliki keuntungan dan
kerugian masing-masing sehingga tidak dapat disalahkan jika perusahaan menengah
kebawah masih melakukan penerapan konvensional, karena dibuat sesuai kebutuhan
dan jumlah data yang terbatas sehingga tidak memerlukan sistem skala besar yang
membuat pengarsipan menjadi dinamis.
Penerapan digitalisasi pada sistem pengarsipan sudah
sering digunakan oleh banyak perusahaan besar, dikarenakan perusahaan besar
memerlukan sistem pengarsipan skala besar sehingga penerapannya menggunakan
sistem digital dengan tujuan untuk membuat pengarsipan lebih dinamis, efisien
dan efektif dalam penggunaannya. Selain itu, pengarsipan digital memudahkan tiap
pekerja ataupun pemimpin perusahaan untuk mengakses sistem arsip sehingga waktu
yang digunakan untuk memperoleh data arsip yang dibutuhkan menjadi lebih singkat.
Beberapa contoh sistem arsip digital seperti menggunakan ‘Web Server’, ‘Website
Perusahaan’, ‘SuperApps’, ‘Microsoft Apps’ dan banyak lagi.
Jurnal ini membahas mengenai cara pengelolaan arsip secara dinamis dan digital. Pengkajian
dari tiap perusahaan sangat berpengaruh untuk melakukan pengelolaan terhadap
data arsipnya. Tujuannya adalah agar dapat menyesuaikan kebutuhan perusahaan
terhadap sistem pengarsipan supaya tidak terjadinya masalah-masalah yang tidak
diinginkan. Tentu pemanfaatan pengarsipan secara digital sangat disarankan bagi
tiap perusahaan agar menjadikan perusahaan lebih berkembang.
2. KAJIAN
LITERATUR/TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan
adalah terjemah dari kata “management”. Menurut KBBI, pengelolaan dapat
diartikan sebagai menyelenggarakan. Sedangkan menurut Harsey dan Blanohrd
dalam Sudjana, manajemen adalah kegiatan bekerja sama atau melalui orang lain baik
perorangan maupun kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. (Sudjana, 2003)
Pengelolaan adalah detail manajer. Sementara itu, mengelola ialah kegiatan yangbdimulai dari pengumpulan informasi, perencanaan, pengorganisasian, koordinasi dan implementasi hingga pemantauan dan evaluasi. Selain itu, pengelolaan pun mendapatkan sesuatu yang bisa menjadi sumber perbaikan pengelola. Pengertian lain ialah bahwa pengelolaan adalah suatu organisasi atau rancangan untuk memungkinkan sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.
2.2. Pengertian
Arsip
Menurut
Hendi Haryadi dalam Suryadi (2019), secara umum arsip merupakan suatu bentuk tulisan
dalam bentuk corak teknis, tetapi secara individual, kelompok atau dalam satu
kesatuan fungsional yang berupa perencanaan, perwujudan dan penyelenggaraan
kehidupan pada umumnya dan kearsipan pada khususnya, kumpulan surat atau bahan
penunjang lainnya, yang menjamin bahwa memori internal penyelenggaraan negara
menjadi bersifat fisik atau terlihat dan legal apabila berlaku ketentuan hukum
sedangkan organisasi berkembang dan dipelihara serta dipertahankan selama diperlukan.
Kearsipan merupakan hal yang sangat penting ketika organisasi terus beroperasi, baik dalam hal kegiatan operasional maupun
kegiatan pengembangan. Hal ini berarti arsip-arsip dinamis yang penting pada salah
satu lembaga, baik negeri ataupun swasta, karenawmerupakan kelanjutan dari kebiasaan lembaga-lembaga publikGtersebut. Pengoperasian berkelanjutan memengaruhi jumlah file yang berubah.
Jika arsip tidak bisa dikendalikanvsecara efektif, maka kertas-kertas juga akan menjadi tumpukan yang tidak berguna, bukan arsip. Jika kertas dapat
dimanfaatkan, maka harus dikelola agar dapat digunakan, dan tentunya memudahkan
proses pencarian arsip. (Wardah, 2016)
Pada
zaman yang sudah maju ini, pengelolaan
arsip tidak hanya dilakukan secara dinamis saja, melainkan pengelolaan arsip
sudah bisa dilakukan secara digital. Pengelolaan arsip secara digital ini lebih
banyak keunggulannya daripada pengelolaan arsip dinamis.
3. METODOLOGI
Metodologi yang dipakai
pada jurnal ini ialah studi literatur. Studi literatur ialah suatu cara
pemecahan masalah dengan mempelajari sumber-sumber tertulis sebelumnya. Dengan
kata lain, istilah studi literatur juga sangat akrab dengan istilah studi
pustaka.
Studi
pustaka adalah hal yang diperlukan untuk penelitian, khususnya penelitian
ilmiah dengan tujuan utama pengembangan aspek keuntungan teoritis dan praktis. Studi
Pustaka dilakukan oleh setiap peneliti yang tujuan utamanya adalah mencari dan
memperoleh pijakan untuk menetapkan landasan teori, cara berpikir dan penentuan
keputusan atau asumsi sebelumnya yang disebut juga hipotesis penelitian. Pelaksanaan
studi literatur ini dilakukan ketika telah menentukan judul jurnal dan inti
pembahasan,
4. PEMBAHASAN/ANALISIS
4.1. Arsip Dinamis
Arsip dinamis ialah suatu arsipvyang
keberadaannya sangat penting. Urgensi kearsipan dinamis di lembaga sangat
signifikan. Oleh karenanya, lembaga
kearsipan memikul tanggung jawab dalam bidangvpengelolaanvarsip yang
dinamis. Salah satu kegunaan atau manfaat dari arsip dinamis yaitu arsipvyang masih
digunakan dalam kegiatan operasional_sehari-hari, sehingga instansi yang bersangkutan kemungkinan besar bisa menyimpan arsip dinamis dalam jangka waktu tertentu.
Arsip dinamis ialah
suatu arsip yang berfungsi secara langsung untuk
melaksanakan administrasi negara, terlepas dari apakah arsip berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan kegiatan_operasional.
Arsip dinamis tidak bisa dipisahkan dari
kegiatan operasional suatu lembaga.
Arsip
dinamis dibagi menjadi tiga jenis (Purwatingsih, n.d.), diantaranya
ialah:
1. Arsip
dinamis aktif adalah jenis yang masih banyak dipakai untuk menjamin keberlangsungan
pekerjaan.
2. Arsip
dinamis semi aktif adalah jenis yang kuantitas penggunaannya sudahhmulai berkurang.
3. Arsip dinamis tidak aktif adalah jenis yang jarang digunakan pada kegiatan sehari-hari
4.1.1
Kegunaan Arsip Dinamis
Arsip
dinamis pun mempunyai kegunaan baik dalam organisasi maupun perusahaan. Adapun
kegunaan dari arsip dinamis, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Nilai
Guna Primer
Biasanya
berdasar kepada kegunaan untuk kebutuhan pembuat arsip sendiri. Nilai guna
primer terbagi lagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:
a. Nilai
guna administrasi, adalah file tidak aktif yang dipakai untuk memutuskan
kebijakan perusahaan dan mempunyai nilai administrasi.
b. Nilai
guna fiscal, berisi dokumentasi nilai penggunaan yang terkait dengan penggunaan
dana untuk tujuan operasiona.
c. Nilai
guna hukum, biasanya dalam bentuk utilitas dokumen.
d. Nilai
guna historis, biasanya dalam bentuk dokumen yang disimpan bukan untuk kebutuhan
komersial tetapi untuk kepentingan sejarah guna merekam suatu hal yang
berkaitan_dengan
kegiatan tersebut.
2. Nilai
Guna Sekunder
Nilai
guna sekunder biasanya berdasar kepada kegunaan arsip untuk masyarakat di luar pembuat
arsip tersebut, biasanya digunakan sebagai bahan bukti atau sejenisnya. Berikut
merupakan nilai guna sekunder:
a. Nilai
guna kebuktian, berisi tentang pembentukan, pengembangan, pengaturan dan
pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi.
b. Ni;ai
guna informasional, berupa informasi terkait penelitian dan tujuan sejarah
tanpa berafiliasi dengan organisasi yang membuatnya. (Sukoco, 2016)
Arsip dinamis sendiri mempunyai ciri khas atau
keunggulan. Ciri arsip dinamis tersebut diantaranya:
1. Arsipnya
masih nyata sehingga digunakan dalam pengelolaan sehari-hari.
2. Nilainya
selalu berubah-ubah tergantung pada fungsi mana dalam lembaga yang menggunakannya.
3. Prinsip
bahwa repositori dinamis ditutup, karena fakta bahwa karena repositori dinamis
digunakan untuk administrasi, kerahasiaan repositori dinamis tetap terjaga.
4.1.2 Filling/Kearsipan
Filling adalah tahapan yang dilakukan
ketika proses penympanan, pemeliharaan dan penemuan arsip secara cepat dan
efisien. Tujuan utama dari filling yaitu untuk mempermudah saat mencari
atau menemukan kembali arsip yang sudah disimpan. (Chaniago, 2016)
Prosedur
dari filling terdiri dari:
a. Inspecting
atau memeriksa, yaitu pemeriksaan arsip yang harus di filling atau
tidaknya.
b. Pengindeksan,
penentuan key words yang akan dipakai. Contohnya seperti system abjad,
nomor, subjek atau perihal.
c. Coding,
adalah
suatu symbol yang ditulis pada selembaran arsipnya, berarti dokumen tersebut
sudah ada tanda penyimpanan arsipnya.
d. Penyortiran,
kegiatan untuk mimilah arsip kemudian mengelompokkannya sesuai dengan kelompok
arsip teresbut.
e. Stroring, adalah kegiatan menyimpan arsip di tempat yang telah disediakan.
Selain
dari prosedur, filling juga mempunya sebuah sistem. Sistem filling merupakan
suati tahapan yang dipakai pada pengelolaan arsip dengan memakai metoda
tertenru yang sudah diterapkan.
Berikut
merupakan macam-macam dari sistem filling, antara lain sebagai berikut:
a. Sistem Subyek
atau perihal
Sistem ini merupakan suatu sistem
yang berdasar kepada kegiatan yang akan dilaksanakan. Contohnya seperti perihal
undangan, rapat, pembelian barang, pengembalian barang, pemberitahuan, dan lain
sebagainya.
b. Sistem
Abjad
Sesuai namanya, pengarsipan dengan
menggunakan metode ini berarti mengurutkan file atau dokumen sesuai
dengan abjad yakni dari huruf A sampai Z yang digunakan sebagai suatu kode. Pengurutan
abjad bisa memakai nama orang, perusahaan, organisasi atau lain sebagainya.
c. Sistem
Angka
Pada surat-menyurat biasanya akan
dikeluarkan nomor surat sebagai nomor surat keluar atau masuk. Hal itu dapat
dipakai saat melakukan proses pengarsipan sesuai surat yang keluar atau
diterima.
d. Sistem
Tanggal
Sistem ini merupakan suatu sistem
yang berdasar pada urutan tanggal. Biasanya pada saat pengarsipan, pengurutannya
dimulai dari tanggal muda hingga tanggal tua.
e. Sistem
Wilayah
Proses pengarsipan dilakukan dengan
cara mengurutkan wilayah-wilayah tertentu.
4.1.3 Pengelolaan Arsip Dinamis
Pengelolaan
ini ialah sebuah proses mengelola arsip dinamis secara efektif dan efisien, termasuk
pembuatan arsip, akses dan pemeliharaan, serta pembuangan. Selain daripada itu,
pengelolaan arsip secara dinamis dilakukan guna menjamin keberadaan arsip
selama beroperasi untuk menjadi bahan penanggung jawab kinerja dan alat
bukti berdasarkan sistem fasilitas.
Berikut merupakan beberapa kelebihan dan kekurangan
dalam penerapan sistem pengarsipan secara digital, yaitu:
a. Kelebihan:
Tidak
memerlukan biaya besar untuk membuat sistemnya, mudah untuk dibaca fisiknya
saat dibutuhkan, data arsip bersifat resmi, hanya memerlukan ruang khusus dan
tempat penyimpanan untuk data arsip.
b. Kekurangan:
Rawan untuk mengalami kerusakan fisik akibat beberapa faktor, rawan kehilangan data kapan saja, memerlukan waktu untuk mencari data yang ada, Memerlukan kertas yang cukup banyak, kurang efisien dan dinamis, dan sebagainya.
Pengelolaan arsip terdiri dari beberapa
bagian (Wardah, 2016), diantaranya:
1. Pembuatan
Arsip Dinamis
Dalam pembuatan
sebuah arsip, arsip tersebut harus dibuat secara baik guna menjamin pencatatan
kegiatan sebagai arsip yang otentik, lengkap dan bisa dipercaya sesuai dengan
persyaratan hukum. Pembuatan arsip didasarkan pada analisis fungsi dan tugas
organisasi. Pembuatan arsip pun perlu memenuhi unsur-unsur struktur arsip, inti
dan konteks. Pembuat arsip merencanakan proses penciptaan dan penerimaanvarsip secara_akurat. Hal yang dapat
dilakukan oleh pencipta arsip guna membuat pengarsipan yang efektif, diantaranya
sebagai berikut:
1) Tata
naskah dinas ialah perintah mengenai jenis, format, penyusunan, keamanan,
pengesahan, pendistribusian, dan media yang dipakai pada komunikasi dinas.
2) Klasifikasi
arsip adalah model pengorganisasian arsip secara bertahap hasil pelaksanaan fungsi
dan tugas perusahaan ke dalam beberapa kategori satuan data arsip.
3) Jadwal
retensi arsip dibuat berdasarkan instruksi retensi arsip yang dikeluarkan.
Petunjuk pelestarian arsip adalah ketentuan berupa petunjuk yang memuat tentang
pelestarian arsip setiap benda negara dan menjadi dasar bagi pembuatan rencana
pelestarian arsip di setiap lembaga negara.
4) Sistem klasifikasi keamanan dan hak akses arsip yang menjadi dasar perlindungan hak dan tanggung jawab pencipta arsip dan masyarakat dalam mengakses arsip. Sebagai sumber informasi, arsip harus mudah diakses oleh masyarakat, namun demi keamanan dan untuk melindungi fisik arsip, perlu dilakukan pengaturan keamanan dan ketersediaan arsip yang dinamis.
2. Penggunaan
Arsip Dinamis
Langkah berikutnya adalah langkah penggunaan arsip, yang berlangsung beberapa hari atau bahkan bisa bertahun-tahun. Pada langkah ini, pengguna biasanya memakai arsip dinamis dan membutuhkan akses yang cepat ke file dinamis. Karena penggunaan yang tinggi dan membutuhkan akses cepat, arsip dinamis disimpan di kantor pada tempat khusus arsip seperti file. Pada umumnya masa aktif arsip dinamis berkisar antara satu tahun atau lebih, namun ada juga arsip dinamis yang masa aktifnya lebih lama. Misalnya pada file karyawan karena akan menjadi file aktif selama karyawan itu ada untuk bekerja di sebuah perusahaan.
3. Pemeliharaan
Arsip Dinamis
Pemeliharaan arsip menurut Arsip
Nasional Republik Indonesia (2019) adalah sebagai
berikut:
a. Pemeliharaan
Arsip Aktif
b. Pemeliharaan
Arsip Inaktif
4. Penyusutan
Arsip Dinamis
Penyusutan arsip adalah tindakan
pengurangan jumlah arsip dengan cara memindahkan arsip inaktif dari unit
pengolah ke unit arsip, memusnahkan arsip yang tidak berguna, dan melepaskan
arsip inaktif ke fasilitas kearsipan. Penghapusan arsip selalu berdasarkan
Jadwal Retensi Arsip. Namun, apabila suatu instansi belum memiliki Jadwal
Retensi Arsip, maka dapat dilakukan pencoretan arsip sesuai dengan Surat Edaran
(SE) No. 01 Tahun 1981 tentang penggunaan arsip inaktif dalam pelaksanaan
ketentuan peralihan Peraturan Kabinet tentang peniadaan arsip. melalui tahapan
pendaftaran arsip inaktif, penataan ulang, pemusnahan dan pengiriman arsip.
4.2. Arsip
Digital
Arsip digital ialah arsip yang bentuk fisiknya sudah berubah dari selembaran kertas menjadi arsip digital. Proses mengubah file ini disebut transfer media. Proses transfer media bisa memakai computer yang dibantu oleh perangkat pemindaian
berkecepatan cepat.
Langkah dalam pengelolaan arsip difital ini tentunya
membutuhkan item pendukung dalam proses pengelolaannya (Hakim, 2015), diantaranya adalah:
a.
Sumber Daya Manusia
Dilihat sekilas, pengumpulan arsip terlihat
sangatlah mudah. Namun nyatanya, pengumpulan arsip dapat dikatakan sangat rumit
karena jumlah arsip tersebut dapat mencapai ratusan atau bahkan ribuan. Selain
dari pengumpulan arsip, tentu saja akan ada proses mulai dari pencatatan,
penyimpanan hingga penyusutan arsip.
Oleh karena itu, dibutuhkan SDM yang memiliki ilmu
pengetahuan tentang kearsipan, yang bisa berkompeten dan handal dalam proses
pengelolaan arsip. Sehingga, saat proses penemuan kembali arsip sudah benar dan
mudah ditemukan. Jika pengelolaan arsip tidak dikelola oleh SDM yang kurang
baik, pengarsipan akan menjadi berantakan dan susah ditemukan kembali jika
suatu hari ingin dicari.
b.
Perangkat
Perangkat terdiri dari 2 macam, yaitu:
1)
Perangkat Keras
Pada era toknologi yang semakin maju ini, perangkat
keras yang dapat digunakan untuk menunjang proses pengelolaan arsip digital
dapat menggunakan computer atau laptop. Saat ini, sudah banyak computer atau
laptop yang memiliki spesifikasi yang bagus sehingga dapat digunakan untuk
pengelolaan arsip.
2)
Perangakat Lunak
Perangkat
lunak dibutuhkan untuk pengorganisasian arsip yang sudah dalam bentuk digital
ke dalam basis data sehingga dalam proses penemuan kembali arsip tidak akan memakan
waktu yang lama.
c.
Ruangan
Saat sumber daya manusia dan perangkat telah terpenuhi, hal terakhir yang harus dipersiapkan adalah ruangan. Ruangan disini digunakan untuk menyimpan perangkat. Akan dibutuhkan lebih dari satu ruangan untuk proses pengelolaan arsip. Ruangan tersebut terdiri dari ruangan untuk arsip yang belum didigitalisasikan dan ruangan arsip yang sudah didigitalisasikan.
4.2.1
Pengelolaan
Arsip Digital
Tahapan dalam pengarsipan terdiri dari penyimpanan
arsip dan penemuan kembali arsip. Proses pengarsipan digital adalah giat pengarsipan
mulai dari pemindahan media arsip hingga konsolidasi arsip ke dalam media yang
baru. Alih media arsip ialah proses penggunaan alat pindai untuk menyimpan
informasi fisik dan arsip serta memindahkan media arsip dari suatu bentuk ke
bentuk lainnya. Sedangkan, Pemulihan arsip adalah kegiatan pemulihan arsip yang
diperlukan untuk menjalankan kegiatan organisasi.
Berikut merupakan beberapa kelebihan dan kekurangan
dalam penerapan sistem pengarsipan secara digital, yaitu:
a.
Kelebihan:
Pengaksesan
data arsip lebih cepat dan efisien, tidak memerlukan banyak ruang untuk
penyimpanan data arsip karena hanya membutuhkan ruang server, mobilitas
penggunaan data lebih efektif, mengurangi penggunaan kertas di tengah pemanasan
global, menghemat biaya alat tulis kantor, memiliki tingkat keamanan yang baik,
tidak mungkin mengalami kerusakan fisik pada data arsip, dan sebagainya.
b.
Kekurangan:
Biaya pembuatan sistem mahal, rawan kebocoran data oleh hacker ataupun orang dalam, perlu keahlian khusus untuk mengakses/mengatur data arsip, memerlukan internet yang baik
Berikut merupakan tahapan di dalam proses penyimpanan arsip yang dapat dilakukan untuk proses alih arsip (Muhidin et al., 2016):
Sedangkan proses penemuan arsip kembali bisa dilaksanakan
dengan cara:
4.2.2
Kedudukan Arsip
Digital
Dilihat dari media penyimpanan arsip, posisi arsip digital masuk ke kelompok arsip media baru, yang berarti arsip yang berisi informasi dan bentuk fisiknya menggunakan alat elektronik atau berupa gambar bergerak, bukan gambar diam dan rekaman audio yang dibuat sehubungan dengan kegiatan organisasi maupun individu.
Dilihat dari proses pengelolaan arsip, pengarsipan digital meliputi sistem pengelolaan arsip secara konvensional dan digital (hybrid system). Pengarsipan dengan sistem hybrid ini dilaksanakan sebagian secara konvensional atau kertas dan sebagian secara digital. (Muhidin et al., 2018)
4.2.3
Manfaat Arsip
Digital
Manfaat yang bisa didapatkan dari proses pengelolaan
arsip digital adalah sebagai berikut:
a.
Penghematan
investasi
Contohnya
seperti kertas dan tinta. Arsip yang begitu banyak membutuhkan tinta dan kertas
untuk proses pencatatannya. Dengan kata lain, jika menggukana proses
pengelolaan arsip secara digital, dapat menghemat pengeluaran kertas dan tinta
b.
Penghematan
waktu
Dalam
pengelolaan arsip digital, tidak akan dibutuhkan waktu lama untuk menemukan
kembali arsip yang telah tersimpan sangat lama.
c.
Penghematan
sumber daya manusia
Pengelolaan
arsip dinamis membutuhkan petugas yang cukup banyak, karena prosesnya dilakukan
secara konvensional sehingga membutuhkan waktu lama. Berbeda dengan pengelolaan
arsip digital yang tidak terlalu membutuhkan petugas yang banyak karena penyimpanan
arsip dapat terhubung ke semua system.
d.
Memperkecil
kemungkinan kehangusan data
Akan sangat mudah dalam proses mem-back up data yang hilang pada system digital. Apalagi jika tiba-tiba perusahaan mengalami kebakaran, arsip digital tidak akan hangus terbakar karena sudah tersimpan di harddisk.
5.
KESIMPULAN
Perkembangan yang signifikan sudah pastinya diinginkan oleh setiap pembangunan perusahaan. Beberapa hal yang dapat mengantarkan kemudahan untuk terus berkembang diantaranya adalah harus selalu melakukan penyesuaian terhadap zaman juga yang berkembang, dan saat ini berada pada zaman digitalisasi. Segala hal kemungkinan pasti dapat terjadi, tetapi untuk meminimalisir terjadinya kerusakan yang besar perusahaan harus memilih langkah yang tepat dalam menanganinya yakni dengan pemanfaatan digitalisasi dengan baik pada perusahaan. Tentunya maksud pada pemanfaatan digital pada perusahaan yakni penggunaan data arsip secara digital sehingga dapat membuat kebutuhan data mudah terpenuhi, memiliki alur yang dinamis, penggunaan yang efisien, dan efektif untuk digunakan bahkan untuk perusahaan menengah kebawah. Semakin perusahaan dapat melihat potensi yang terdapat pada zaman digital ini, maka semakin baik pula pengelolaan kebutuhan perusahaan yang dapat memudahkan penggunanya.
Daftar Pustaka:
Arsip Nasional Republik Indonesia. (2019). Peraturan Arsip
Nasional Republik Indonesi Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemeliharaan
Arsip Dinamis. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9),
1689–1699.
Chaniago, H. (2016). Manajemen Kantor Kontemporer.
Bandung: Akbar Limas Perkasa, CV.
Hakim, T. D. (2015). Pengelolaan Arsip di Era Teknologi
Informasi. Jurnal Ilmu Budaya, Vol 11.
Muhidin, S. A., Winata, H., & Sontani, U. T. (2016). Manajemen
Kearsipan: Untuk Organisasi Publik. Bisnis, Sosial, Politik, Dan
Kemasyarakatan, Pustaka Setia, Bandung.
Purwatingsih. (n.d.). Sistem Manajemen Kearsipan Arsip
Dinamis Aktif dan Inaktif Kantor.
Sudjana, D. (2003). Strategi pengelolaan dan pengembangan
pusat kegiatan belajar masyarakat.
Sukoco, B. M. (2016). Manajemen Administrasi Perkantoran
Modern.
Suryadi, A. (2019). Rancang Bangun Sistem Pengelolaan Arsip
Surat Berbasis Web Menggunakan Metode Waterfall (Studi Kasus : Kantor Desa
Karangrau Banyumas). Jurnal Khatulistiwa Informatika, 7(1),
13–21. https://doi.org/10.31294/jki.v7i1.36
Wardah, M. (2016). Pengelolaan Arsip Dinamis. Libria, 8(1),
51–68. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/libria/article/view/1223
Lampiran:

.png)

.png)
Komentar
Posting Komentar